Cerita “Guide” Baru
Halo teman- teman, saya mau berbagi cerita nih, hari itu pagi yang cerah dengan angin yang spoi-spoi, saya duduk di restaurant ditemani teman saya sambil menikmati secangkir kopi.
Teman saya agak muram wajahnya sambil mengerlingkan dahi, saya bertanya “Kamu kenapa bro, sampai alismu menyatu begitu?”, dia agak terperangah sambil meletakkan kembali cangkir kopinya. Sambil menghela nafas di pelan berujar” Gini saya bingung, ranking saya di trip advisor kok dak naik-naik ya, padahal tamu semua sudah saya temui dan mereka semua senang dan akan berbagi review di Tripadvisor. Tidah seperti awal saya disini review sangat banyak dan ranking melejit dengan sangat cepat”. Saya tersenyum sambil meneguk kopi hitam pahit tanpa gula,” Bro, punya cerita untuk kamu, dulu teman saya seorang guide baru lulus dapat ijin guide, setiap dia handle tamu selalu mendapatkan rejeki, baik itu tipping dan juga komisi dari tamu belanja di toko, setelah enam bulan berlalu dia juga mengeluhkan sudah jarang dapat tipping apalagi komisi karena tamu tidak belanja. Dia menyimpulkan tamu nya sekarang sudah berubah, pelit dan tidak punya uang”. Teman saya mengerlingkan dahi” turs apa hubungannya dengan saya brp?” Sambil menggeleng kepala saya bilang, “Sekarang pulang dan fikirkan sambil makan, dan sambil mandi”
Nah teman-teman, kadang kita tidak menyadari sudah merubah fokus kita berfikir terhadap pekerjaan kita. Pada awal baik teman saya yang manager hotel dan juga yang guide, sama-sama fous dengan kepuasan tamunya, tidak ada yang lain di fikirannya selain memberikan pelayanan yang maksimal untuk membuat tamunya puas. Setiap manusia mempunyai kepekaan untuk menilai sebuah ketulusan pelayanan dan juga melihat ada kepentingan dalam tersembunyi di dalamnya.
Manusia mempunyai tiga bagian otak yaitu otak reptil, otak emosi dan otak logika. Ketika kita melayani seorang dengan ketulusan maka yang menerima adalah otal emosinya, yang akan meluruhkan logika sehat dan ketakutan. Manusia dalam kondisi seperti ini akan melakukan segala hal untuk menyenangkan diirnya dan orang lain.
Nah, kembali ke cerita teman saya tadi, selain merubah focus kepada hasilĀ dia juga mulai dihantui rasa khawatir akan kehilangan kepercayaan pelangan karena penurunan ranking review di tripadvisor, yang berdampak kepada penjualan dan juga karirnya. Pelayanan yang fokusĀ pada hasil atau imbalan, akan sangat mudah terperangkap di otak reptil manusia, yang bisa menimbulkan antipati dan kurangnya respek mereka terhadap pelayanan kita.
Semoga cerita ini bisa menginspirasi ya, sampai jumpa di cerita yang lain yang lebih seru…