Cerita Sepiring Kue
Halo teman-teman, saya mau bagi cerita lagi nih… kali ini ceritanya tentang sepiring Kue ya, yang belum makan siap-siap kelaparan 🙂
Masih ingatkan kita waktu kecil diberikan makanan atau kue oleh ibu kita? ya saya mengingatkan kalian masa kecil kita yang penuh keceriaan berbagi bersama saudara dan teman-teman.” Nak ini ibu buatkan kue enak, kalian bagi rata ya sama saudara dan teman kalian”. Kita dengan perasaan senang menerima dan berbagi kue itu bersama saudara dan teman kita. Kita kadang saling mengingatkan kalau ada yang mengambil lebih atau berusaha curang. ” Eh jangan curang dong nanti dimarahi ibu lho, sisakan untuk kakak yang belum datang”, betul begitu bukan?
Nah kebiasaan baik ini kita bawa sampai kita dewasa dalam keseharian dan juga dalam pekerjaan. Selalu ingin diperlakukan adil dalam pekerjaan, merasa senang jika sudah diberikan hak yang sama, dan marah jika diberikan kurang dari orang lain.
Seorang yang bekerja sebagai sales di suatu perusahaan selalu mengukur diri dengan competitor, merasa aman dan nyaman jika pencapaian sudah sama dengan mereka dalam segala kondisi.
Jika kita ingin berhasil dalam penjualan, kita harus merubah mindset tersebut dan berfikir bahwa kue sepiring itu harus di ambil untuk memenuhi perut kita dulu tanpa peduli apakah orang lain (competitor) dapat berapa bagian. Apakah saya berdosa jika penjualan saya lebih dari, sementara orang lain sampai tidak mendapatkan penjualan?. Jika anda masih berfikir adil itu adalah sama rata jawabannya adalah “Iya”. Tetapi jika adil itu adalah mendapatkan lebih dari usaha yang lebih dari orang lain lakukan, tentu jawaban anda adalah karena saya selalu berfikir menjadi pemenang, sehingga menggembleng diri untuk belajar dan berusaha lebih dari orang biasa-biasa.
Semoga cerita spiring kue ini bisa memberika inspirasi bagi teman-teman semua.