Bali Sepuluh Tahun Lagi, part1
Sebagai daerah tujuan wisata nasional Bali menjadi primadona selama hampir tiga dasa warsa. Bali menjadi tujuan para wisatawan mancanegara untuk berlibur, menikmati kegiatan agama, keindahan alam dan keramah-tamahan penduduk yang masih asli.
Fasilitas akomodasi pun bertambah seiring meningkatnya jumlah kunjungan dari tahun ke tahun. Tempat makan dan rekreasi dibuatkan untuk memenuhi selera pasar. Bali menjadi Emas murni yang bersinar di Nusantara, sampai wisatawan menyebut Indonesia itu dimananya Bali.
Seiring waktu, memasuki jaman generasi Gen Z atau generasi milenial yang fasih menggunakan kemajuan teknologi untuk bersosial membagikan tempat dan atraksi baru yang mengundang rasa penasaran. Bermunculan atraksi dan destinasi baru sebagai ajang berphoto selfi untuk menunjukan eksistensi sebagai generasi milenials.
Namun sayangnya semua atraksi dan tempat selfi itu hanya berumur jagung, dan cepat sekali berganti dengan yang lainnya. Tidak ada loyalitas semua berubah mengikuti kemana keramaian berkumpul.
Ada pertanyaan dalam hati “mengapa tidak bisa bertahan lama?”, dalam pencarian jawaban ini melewati bacaan beberapa literatur tentang marketing saya memberanikan diri untuk berbagi pendapat.
Untuk membuat sebuah destinasi wisata yang diperlukan tidak hanya atraksi, tetapi juga akomodasi (kamar dan Makanan) ,transportasi, dan komunikasi. Namun mereka melupakan hal yang paling mendasar dalam markerting adalah positioning. Ketidakpahaman tentang positioning menyebabkan pengembangan produk dan harga tidak disesuaikan dengan target market yang dituju.
Kedua, hanya meniru apa yang sedang ramai digemari dan diduplikasi begitu saja beramai-ramai. Tidak berusaha menciptakan keunikan dan keunggulan sehingga tetap bisa mempunyai daya saing.
Ketiga, semua akan berpengaruh dalam melakukan brand awareness, baik dalam pemilihan brand image, dan target audience dalam melakukan campaign. Terlebih lagi tidak ada value/nilai yang menjadikan destinasi itu layak direkomendasikan ataupun dikunjungi kembali.
Branding Destinasi menjadi bias, tidak mempunyai karakter dan cenderung membosankan. Market akan sangat mudah melupakan dan berpindah karena tidak adanya value/nilai yang membuat market terus mengingatnya.
bersambung…