Stop Loving Your company

Stop Loving Your Company
Kepada para sahabat saya, pertama saya minta maaf sudah lancang menulis ini. Saya katakan ini sebuah gagasan yang antimainstream dan tentunya dengan membaca judulnya sudah banyak para manager yang mempertanyakan, apa sebenarnya yang sedang saya fikirkan. Jika merasa tidak akan siap menerima kenyataan dari tulisan ini, sebaiknya fikirkan lagi untuk melanjutkan membaca.
Ketika semua perusahaan berusaha melatih mental team untuk mempunyai self belonging, justru saya seolah menentang hal tersebut, atau boleh dikatakan meracuni fikrian karyawannya sehingga apa yang mereka lakukan kan menjadi sia-sia.
Memang pendangan saya ini akan mengguncang banyak perusahaan dengan para teamnya yang loyal dan mempunyai self belonging tinggi. Dan pandangan saya ini tentunya dilihat sebagai ancaman mereka, menyarankan karyawannya untuk tidak membacanya.
Jika masih nekat ingin meneruskan membaca, mohon untuk menuntaskan sampai paragraph terakhir.
Sejak saya mengenal perubahaan dan bekerja di dalamnya, saya mengalami beberapa gaya kepemimpinan yang berbeda. Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika saya selalu diingatkan untuk mempunyai self belonging terhadap perusahaan sehingga mempunyai kesadaran untuk menjaga aset perusahaan sepenuh hati seperti milik sendiri.
Apa yang terjadi ketika kita sudah menanamkan hati kepada perusahaan tempat kita bekerja dan akhirnya kita pun mengharapkan imbal balik atas usaha penuh loyalitas tersebut. Saya melihat banyak sekali terjadi hubungan baik yang sudah dibina bertahun-tahun berakhir dengan perasaan yang dilukai, merasa sia-sia tidak mendapat apresiasi yang sesuai harapannya dari pemilik maupun atasan. Ada yang akhirnya resign dan pindah ke tempat lain karena ketidakpuasan dan ada yang masih bertahan tetapi semangat kerjanya sudah tidak bagus dan bahkan sering membuat onar dan mempengaruhi karyawan lainnya.
Saya sangat menyayangkan sekali ini terjadi pada hubungan kerja dalam perusahaan kita. Hidup ini menjadi sia-sia jika bertemu, berteman, bekerjasama, dan berakhir dengan tidak baik seperti kemarau di hapus hujan sehari. Bukannya hidup ini seharusnya setiap hari setiap waktu memperkaya diri dengan pertemanan dan pengetahuan juga pengalaman, menjadikan diri lebih dewasa dan lebih bijaksana juga kaya wawasan. Kondisi ini justru membuat kita trauma dan membentengi diri dengan rasa curiga dan menukar keahlian kita dengan rupiah. Kita menjadi lupa jika kita terlahir dengan anugerah luar biasa untuk dimaksimalkan dengan kesempatan yang diberikan dan memberdayakan diri menjadi lebih bisa memberi manfaat lebih bagi diri sendiri, keluarga dan orang sekitar.
Berangkat dari keprihatinan ini saya berhenti meminta karyawan saya untuk mempunyai rasa memiliki terhadap perusahaan “Stop Loving Your Company, justru meminta mereka jangan membersakan perusahaan saya. Pertama kali dalam sebuah meeting saya mengatakan itu semua terdiam dan bingung, akhirnya saya menjelaskan bahwa kita bertemu karena memang saling membutuhkan sama lain. Kita bertemu yang awalnya belum kenal menjadi saling mengenali kelebihan dan kelemahan masing dan menjadikan visi misi perusahaan sebagai arah dari kerjasama.
Setiap insan berhak mengembangkan dirinya dalam perusahaan dengan menggunakan kesempatan yang diberikan dalam tanggung jawabnya masing-masing, mengambil setiap tantangan baru yang memperkaya pengalamannya. dalam hal ini adalah tugas perusahaan untuk memfasilitasi pengembangan keahlian karyawannya yang bisa mendukung keberhasilan dalam mencapai goal atau target perusahaan.
Sangat jelas bahwa tidak ada yang membesarkan atau dibesarkan, baik karyawan dan perusahaan melakukannya kewajibannya masing-masing. Dengan key performance indikator yang jelas masing-masing bisa memonitor keberhasilan dalam menjalankan kewajiban, hal ini akan menghindari emosi personal dalam kerjasama. Dengan penjiwaan dan penerapan dari nilai-nilai perusahaan akan menghasilkan sebuah sinergy yang membakar semangat untuk terus belajar dari kesalahan dan bangkit bersama tanpa harus saling menyalahkan.
Dengan KPIM (Key Performance Indikator Monitor) karyawan perusahaan berkomitment atas pencapaian yang sudah disepakati dalam bentuk reward dan funishment, sehingga pemutusan atau perpanjangnya kontrak didasarkan atas nilai yang sudah disepakati bersama.
Stop Loving Your Company, Loving what you do then create your success story on your life through the company, you are not about making the company owner richer, but you are developing yourself to become an asset for the company. But more important is you pride yourself and your family and relatives proud of you.