Bali Sepuluh Tahun Lagi Part 2

 

Hii teman-teman, Saya lanjutkan ya cerita tentang bagaimana pariwisata Bali 10 tahun lagi. Tetu masih hangat diingatan kita setiap destinasi di Bali dulu dibranding dengan ciri khasnya masing-masing. Ubud dibranding sebagai “healing destination” karena budaya dan vibrasi Ubud yang menyembuhkan.

Kata Ubud berasal dari kata Ubad yang berarti Obat untuk menyembuhkan jiwa, siapa saja yang menginjakan kakinya di Ubud akan merasakan hati dan jiwanya damai. Sampai dibuatnya film “Eat Pray and Love” yang dibintangi Artist terkenak Julia Robert, Ubud selain menjadi destinasi healing juga dibranding menjadi Romantic Destination. Terbukti Ubud dinobatkan sebagai lima besar destinasi paling romantis di dunia versi Trip advisor.

Kuta kita kenal sebagai destinasi Sunset yang terkenal di dunia, juga pusat night lifestyle atau hiburanbagi wisatawan yang menyukai hingar bingar hiburan malam.

Nusa Dua dibranding menjadi kawasan elite dan exclusive, sebagai tempat bertengger hotel berbintang 5 ke atas dengan jumlah kamar di atas seratus. Nusa Dua juga dibranding sebagai destinasi MICE tempat diselenggarakannya rapat akbar yang bersekala internasional.

Sanur dibranding selain sebagai sunrise nya Bali dengan pantainya yang tenang, juga dibranding sebagai heritage destination denpasar yang mempunyai Museum, Pasar traditional dan sejumlah puri raja yang autentik dengan arsitektur Balinya. Resort dibangun sebagai bungalow dengan mengedepankan arsitektur budaya Bali dengan kebunnya yang memberi kesan tropikal.

Munduk, dibranding sebagai pariwisata alam dan agriculture dengan membangun sejumlah cottage dari kayu diantara rumah-rumah penduduk. Para wisatawan sangat menikmati keindahan lereng perbukitan dengan barisan tanaman cengkeh dan panorama sawah yang berteras sering.

Lovina dikenal dan dibranding sebagai destinasi “remote resort” dengan keindahan sunset dan laut yang tenang, jauh dari semua hiruk pikuk kehidupan pariwisata, juga sebagai destinasi untuk menonton lumba-lumba.

Sebagai reception di salah satu boutique hotel, saya masih ingat semua destinasi itu dibranding dengan sagat jelas dengan karakter masing-masing. Seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan dan perkembangan destinasi, saya melihat brand positioning ini cenderung diabaikan.

Masih nempel dalam ingatan saya ketika wacana kunjungan wisatawan china diprediksi akan meningkat dan juga trend meeting di hotel, mulailah dibangun hotel di city atau city hotel di beberapa destinasi yang. Para investor dan management hotel berlomba membuat kamar sebanyak-banyaknya dengan mengoptimalkan lahan yang ada, terciptalah ratusan kamar ukuran 18m2. Para pelaku pariwisata berlomba menjual kamar merebut kue dipiring dari pembagiannya yang seharusnya kenyang dibagi empat harus dibagi enam, delapan dan seterusnya tanpa ada pembatasan.

Yang terjadi akhirnya berlomba mendapatkan kue itu dengan berlomba menurunkan harga yang otomtis akan menurunkan kualitas pelayanan (hospitality) untuk tetap mempertahankan margin. Menurut saya membangun usaha yang didasari oleh trend ini sangat beresiko bisnis berumur pendek, karena mudul terlalu umum dan mudah ditiru. Sedangkan trend berubah sangat cepat, seiring perkembangan teknologi yang mempermudah penyebaran informasi tentang tempat wisata baru.

Bagaimana Pariwisata Bali sepuluh tahun lagi part3? ikuti terus blog saya ya bueh subscribe untuk mendapatkan update ke email temen-teman.